A. Pengertian Hermeneutika
Kebanyakan orang terkini mengatakan bahwa hermeneutika adalah seni memahami teks. Namun pengertian tersebut tidaklah terlepas dari apa yang telah dijelaskan oleh Zajim Hamidi di dalam bukunya yang berjudul “Hermeneutika Hukum: Sejarah, Filsafat dan Metode Tafsir, bahwa secara etimologi kata hermeneutika berasal dari bahasa Inggris, yaitu hermeneutic yang artinya ketafsiran yang menunjuk kepada keadaan, dan hermeneutics yang mengandung arti Ilmu penafsiran, ilmu untuk mengetahui maksud yang terkandung dalam ungkapan penulis, dan penafsiran yang secara khusus menunjuk kepada penafsiran atas teks atau kitab suci.
[Zajim Hamidi. 2011. Hermeneutika Hukum: Sejarah, Filsafat dan Metode Tafsir. Edisi Revisi. Malang: Universitas Brawijaya Press. Hal. 20]
Kenyataan dari pengertian tersebut sangat berkaitan erat dengan berbagai objek yang diamati ataupun dibicarakan oleh sabjek. Sehingga yang disebut dengan hermeneutika ini telah memunculkan beberapa aliran dalam memahami segala sesuatu yang ada. Pertama, adanya penafsiran berdasarkan apa yang telah diketahui sebelumnya, ataupun suatu penafsiran yang tidak berdasarkan fakta yang terdapat pada objek. Penafsiran yang seperti ini disebut penafsiran sabjektif. Kedua, adanya penafsiran berdasarkan fakta yang terdapat pada objek, ataupun suatu penafsiran yang tidak berdasarkan pada apa yang telah diketahui sebelumnya. Penafsiran yang seperti ini disebut penafsiran objektif. Ketiga, adanya penafsiran yang merupakan perpaduan antara kedua aliran sebelumnya. Aliran yang ketiga ini manafsirkan sesuatu perkara sesuai dengan berbagai perspektif (sabjektif-objektif), yaitu mengkombinasikan setiap ketentuan agar penyelesaiannya tidak menimbulkan perkara-perkara lainnya.
B. Sejarah Hermeneutika
Adanya hermeneutika sebagai suatu metode keilmuan tentu tidak terlepas dari berbagai hal yang melatarbelakangi kemunculannya. Agar dapat mengetahuinya maka salah satu langkah yang tepat ialah dengan memperlajari sejarah. Berdasarkan sumber tertulis yang berkaitan dengannya menjelaskan bahwa hermeneutika muncul di Barat, yang berhubungan langsung dengan problem pemahaman kitab suci umat Kristiani. Kemudian adanya kritikan internal dari Martin Luther (1483-1546 M) tentang perlu adanya pembelajaran yang tidak hanya terpaku pada peroalan teologi, tetapi harus mencakup juga kesemua ilmu-ilmu humaniora. Serta perlu adanya pembacaan dan pemahaman Bibel secara bebas.
[Pengertian dan Asal-usul Hermeneutika: sebuah Pertimbangan, dalam http://sofyan-efendi.wordpress.com. 26072011, diakses tanggal 03 Desember 2014, 16:30 wib]
C. Pentingnya Belajar Hermeneutika
Setelah mengetahui sekilas tentang pengertian dan latar belakang muncul hermeneutika, maka sebagai mahasiswa Islam penulis berpendapat bahwa pentingnya belajar hermeneutika didalam Islam ialah:
Kebanyakan orang terkini mengatakan bahwa hermeneutika adalah seni memahami teks. Namun pengertian tersebut tidaklah terlepas dari apa yang telah dijelaskan oleh Zajim Hamidi di dalam bukunya yang berjudul “Hermeneutika Hukum: Sejarah, Filsafat dan Metode Tafsir, bahwa secara etimologi kata hermeneutika berasal dari bahasa Inggris, yaitu hermeneutic yang artinya ketafsiran yang menunjuk kepada keadaan, dan hermeneutics yang mengandung arti Ilmu penafsiran, ilmu untuk mengetahui maksud yang terkandung dalam ungkapan penulis, dan penafsiran yang secara khusus menunjuk kepada penafsiran atas teks atau kitab suci.
[Zajim Hamidi. 2011. Hermeneutika Hukum: Sejarah, Filsafat dan Metode Tafsir. Edisi Revisi. Malang: Universitas Brawijaya Press. Hal. 20]
Berfoto bersama dalam acara Seminar on Islamic Teachings
(Hermes Hotel, 17 Oktober 2014. 10:12 wib)
Kenyataan dari pengertian tersebut sangat berkaitan erat dengan berbagai objek yang diamati ataupun dibicarakan oleh sabjek. Sehingga yang disebut dengan hermeneutika ini telah memunculkan beberapa aliran dalam memahami segala sesuatu yang ada. Pertama, adanya penafsiran berdasarkan apa yang telah diketahui sebelumnya, ataupun suatu penafsiran yang tidak berdasarkan fakta yang terdapat pada objek. Penafsiran yang seperti ini disebut penafsiran sabjektif. Kedua, adanya penafsiran berdasarkan fakta yang terdapat pada objek, ataupun suatu penafsiran yang tidak berdasarkan pada apa yang telah diketahui sebelumnya. Penafsiran yang seperti ini disebut penafsiran objektif. Ketiga, adanya penafsiran yang merupakan perpaduan antara kedua aliran sebelumnya. Aliran yang ketiga ini manafsirkan sesuatu perkara sesuai dengan berbagai perspektif (sabjektif-objektif), yaitu mengkombinasikan setiap ketentuan agar penyelesaiannya tidak menimbulkan perkara-perkara lainnya.
B. Sejarah Hermeneutika
Adanya hermeneutika sebagai suatu metode keilmuan tentu tidak terlepas dari berbagai hal yang melatarbelakangi kemunculannya. Agar dapat mengetahuinya maka salah satu langkah yang tepat ialah dengan memperlajari sejarah. Berdasarkan sumber tertulis yang berkaitan dengannya menjelaskan bahwa hermeneutika muncul di Barat, yang berhubungan langsung dengan problem pemahaman kitab suci umat Kristiani. Kemudian adanya kritikan internal dari Martin Luther (1483-1546 M) tentang perlu adanya pembelajaran yang tidak hanya terpaku pada peroalan teologi, tetapi harus mencakup juga kesemua ilmu-ilmu humaniora. Serta perlu adanya pembacaan dan pemahaman Bibel secara bebas.
[Pengertian dan Asal-usul Hermeneutika: sebuah Pertimbangan, dalam http://sofyan-efendi.wordpress.com. 26072011, diakses tanggal 03 Desember 2014, 16:30 wib]
C. Pentingnya Belajar Hermeneutika
Setelah mengetahui sekilas tentang pengertian dan latar belakang muncul hermeneutika, maka sebagai mahasiswa Islam penulis berpendapat bahwa pentingnya belajar hermeneutika didalam Islam ialah:
- Agar dapat mengetahui pemahaman yang dimunculkan dari berbagai penafsiran, terutama terhadap teks-teks kitab pedoman;
- Agar dapat memahami setiap ragam bahasa yang dimunculkan dalam setiap persoalan sosial keagamanan;
- Agar dapat menyelesaikan setiap perkara keislaman terkini secara seimbang (sesuai dengan perkembangan zaman);
- Agar lebih terbuka atau toleran terhadap berbagai perspektif yang ada.
